Sejarah Kerajaan Mataram: Jejak Peradaban Hindu–Buddha di Nusantara
.jpg)
Sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kerajaan-kerajaan besar yang membentuk identitas budaya, politik, dan keagamaan masyarakat Nusantara. Salah satu kerajaan yang memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban awal Indonesia adalah Kerajaan Mataram Kuno. Dalam kajian sejarah nasional, Sejarah Kerajaan Mataram menjadi topik utama yang sering dibahas karena kerajaan ini meninggalkan warisan monumental berupa candi-candi megah, sistem pemerintahan terorganisir, serta bukti tertulis yang cukup melimpah dibandingkan kerajaan sezamannya (Ricklefs, 2008).
Kerajaan Mataram tidak hanya menunjukkan kemajuan dalam bidang politik dan militer, tetapi juga menjadi pusat perkembangan agama Hindu dan Buddha di Jawa. Dinamika kekuasaan, perpindahan pusat kerajaan, serta interaksi dengan lingkungan alam menjadikan perjalanan sejarahnya kompleks dan menarik untuk dikaji lebih mendalam (Munandar, 2019). Oleh karena itu, memahami Sejarah Kerajaan Mataram berarti memahami salah satu fondasi penting pembentukan peradaban Indonesia.
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri pada abad ke-8 Masehi di wilayah Jawa Tengah. Informasi awal mengenai kerajaan ini diperoleh dari berbagai prasasti, salah satunya adalah Prasasti Canggal (732 M) yang ditemukan di Gunung Wukir, Magelang. Prasasti ini menyebutkan pendirian sebuah lingga oleh Raja Sanjaya sebagai simbol kekuasaan dan pemujaan terhadap Dewa Siwa (Poesponegoro & Notosusanto, 2010).
Berdirinya Kerajaan Mataram tidak terlepas dari kondisi geografis Jawa Tengah yang subur. Tanah vulkanik yang kaya unsur hara mendukung sistem pertanian yang maju, terutama pertanian padi. Hal ini memungkinkan terbentuknya surplus pangan yang menjadi dasar penguatan struktur sosial dan politik kerajaan (Christie, 1992). Dengan demikian, faktor alam dan religius menjadi pendorong utama lahirnya kekuasaan Mataram.
Dinasti Sanjaya dan Konsolidasi Kekuasaan
Pada fase awal perkembangannya, Kerajaan Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu aliran Siwa. Raja Sanjaya dikenal sebagai tokoh penting dalam memperkuat fondasi kerajaan melalui ekspansi wilayah dan penataan administrasi pemerintahan. Informasi mengenai Sanjaya tidak hanya berasal dari Prasasti Canggal, tetapi juga dari sumber naskah tradisional seperti Carita Parahyangan (Zoetmulder, 1985).
Di bawah Dinasti Sanjaya, Kerajaan Mataram mulai membangun struktur kekuasaan yang stabil. Raja dipandang sebagai wakil dewa di bumi, sehingga legitimasi kekuasaan diperkuat melalui ritual keagamaan dan pembangunan tempat suci. Hal ini menunjukkan bahwa politik dan agama merupakan dua unsur yang saling berkaitan erat dalam sistem pemerintahan Mataram (Munandar, 2019).
Dinasti Syailendra dan Perkembangan Agama Buddha
Selain Dinasti Sanjaya, Kerajaan Mataram juga diperintah oleh Dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana. Keberadaan dinasti ini dibuktikan melalui prasasti-prasasti seperti Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak, yang mencatat pembangunan bangunan suci Buddha (Poesponegoro & Notosusanto, 2010).
Puncak kejayaan Dinasti Syailendra ditandai dengan pembangunan Candi Borobudur, sebuah mahakarya arsitektur Buddha yang hingga kini diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sarana pendidikan spiritual yang merepresentasikan kosmologi Buddha (Soekmono, 1976). Keberadaan Borobudur menjadi bukti kemajuan teknologi, seni, dan pemikiran religius pada masa Mataram Kuno.
Hubungan Antara Dinasti Sanjaya dan Syailendra
Hubungan antara Dinasti Sanjaya dan Syailendra sempat menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian berpendapat bahwa kedua dinasti ini bersaing, sementara yang lain menyatakan adanya hubungan koeksistensi atau bahkan perkawinan politik. Salah satu bukti penting adalah pernikahan antara Rakai Pikatan (Sanjaya) dengan Pramodhawardhani (Syailendra) yang tercatat dalam Prasasti Siwagrha (Ricklefs, 2008).
Peristiwa ini menandai upaya penyatuan kekuasaan dan menunjukkan toleransi beragama yang cukup tinggi. Pada masa ini, pembangunan candi Hindu seperti Candi Prambanan berlangsung bersamaan dengan pemeliharaan candi-candi Buddha. Fenomena ini mencerminkan kehidupan sosial yang relatif harmonis meskipun terdapat perbedaan keyakinan (Munandar, 2019).
Pusat Kerajaan dan Sistem Pemerintahan
Pusat Kerajaan Mataram Kuno awalnya berada di wilayah Jawa Tengah, khususnya di sekitar Kedu dan Prambanan. Sistem pemerintahan bersifat monarki dengan raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Di bawah raja terdapat pejabat-pejabat kerajaan yang bertugas mengelola wilayah, pajak, serta kegiatan keagamaan (Christie, 1992).
Administrasi kerajaan didukung oleh penggunaan aksara dan bahasa Sanskerta serta Jawa Kuno, yang banyak ditemukan dalam prasasti. Hal ini menunjukkan tingkat literasi elit kerajaan yang cukup tinggi dan adanya sistem pencatatan resmi sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan (Zoetmulder, 1985).
Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Mataram
Memasuki abad ke-10 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno mulai mengalami kemunduran. Salah satu faktor utama adalah bencana alam, khususnya letusan Gunung Merapi yang diduga menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan pemukiman. Kondisi ini memaksa pusat kerajaan berpindah ke Jawa Timur di bawah pemerintahan Mpu Sindok (Poesponegoro & Notosusanto, 2010).
Selain faktor alam, tekanan politik dan ekonomi juga turut mempercepat kemunduran. Perubahan jalur perdagangan dan munculnya kekuatan-kekuatan baru di wilayah Nusantara membuat Mataram kehilangan pengaruhnya secara perlahan. Perpindahan pusat kekuasaan ini menandai berakhirnya fase Mataram Kuno di Jawa Tengah (Ricklefs, 2008).
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, Sejarah Kerajaan Mataram menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki peran fundamental dalam perkembangan peradaban Indonesia kuno. Dari proses berdiri yang dipengaruhi faktor geografis dan religius, masa kejayaan yang ditandai dengan pembangunan candi-candi monumental, hingga kemunduran akibat bencana alam dan dinamika politik, Mataram Kuno memberikan pelajaran berharga tentang ketahanan dan adaptasi sebuah peradaban.
Mempelajari sejarah Kerajaan Mataram bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga memahami akar budaya, toleransi beragama, dan kebijaksanaan dalam mengelola kekuasaan. Sejarah mengajarkan bahwa kemajuan dan kehancuran suatu peradaban selalu dipengaruhi oleh interaksi antara manusia dan lingkungannya.
Pertanyaannya, sejauh mana kita sebagai generasi masa kini mampu mengambil hikmah dari Sejarah Kerajaan Mataram untuk membangun masa depan bangsa yang lebih beradab dan berkelanjutan?
Referensi
Munandar, A. A. (2019). Arkeologi Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2010). Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford University Press.
Soekmono. (1976). Candi Borobudur: Sejarah dan Maknanya. Jakarta: Balai Pustaka.
Zoetmulder, P. J. (1985). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Post a Comment for "Sejarah Kerajaan Mataram: Jejak Peradaban Hindu–Buddha di Nusantara"
silahkan berkomentar sesuai konten
Post a Comment